Hai bowo


Halu tia..
Dirimu benar Tia. Aq paham klo dirimu marah, sebel, jengkel, mangkel tia,
Tp diriku kagum caramu melihat dari sisi pandang yang laen. Belum tentu semua sepeti yang nampak di mata.

Memang 100% salah klo kita menilai suatu agama dari pengikutnya tia…
Kuharap kita lebih open mind’ed tentang hal ini.
Pasti dirimu pernah dengar juga “stereotipe” yang mengatakan klo org Jawa tuh sopan dan halus2, sementara orng Medan bawaannya kasar, atopun cewek Sunda yang kabarnya matre…
Itu sama sekali hanyalah omongan yg ga perlu didengerkan. Buktinya, ada juga temen aq yg dari Jawa tp omongannya seringya bikin sebel. Temenku yg laen, yg dari Medan, malah baik dan sopan sekali, pembawaanny seperti mengayomi… dan selama ini, diriku ga jarang liat org Sunda yang dermawan.
Sebuah stereotipe hanyalah omongan isapan jempol yang ga perlu didengarkan tia… buat rame-rame’an aja..
Asal usul orang, lingkungan, ataupun keluarga, tidak selalu menjadi cerminan tingkah hidup manusia.Orang itu sndiri yg menentukan apakah dia mo jadi org baik ato org yg buruk.
Dan juga sistem atopun agama, tia. Selalu dibuat dengan tujuan baik. Namun apakah itu ditaati dan dipatuhi sesuai amanatnya… tergantung orgnya, tia. Bukan salah sistem ato agama itu, tia. Ketika sistem demokrasi ditegakkan, masih ada aja nepotisme. Begitu pula ketika bohong itu berdosa, masi aja org yang tidak jujur.

Di agamaku, tia, agama yg terkenal mengagungkan kasih sayang itu, kami punya 5 pondasi agama. Tiangnya agama, begitu kata temen2ku.
Yang ke-
1. Shahadat , itu seperti sumpah, tia, tp kepada Tuhan, kami berjanji akan percaya keberadaan Tuhan kami.. yang otomatis berarti akan mengabdi dan mengikuti.
2. Sholat ato sembayang (yg biasa kami lakukan di masjid)
3. Puasa
4 Membayar zakat (beramal uang ataupun barang)
5 Naik haji bila kecukupan baik uang ataupun persiapan laennya.

Hmm…
Klo bisa dicontohkan, tanganku ini adalah aq.. dan handphoneku ini adalah agamaku. Handphone kugenggam layaknya diriku memeluk agama, tia.
Check;
Kita mulai dari yg paling susah, tia, dari yg terbawah;
Pondasi yg ke-5 naik haji, diriku lum pernah tia, buat ngumpulin uangnya aja lum kepikiran.. otomatis, bisa kubilang pondasi yg ke-5ku hilang musnah.
~ santai, peganganku masi erat
Pondasi yg ke-4 membayar zakat. Diriku mbyar zakat loh tia, ga smua orang rutin mbayar zakat loh hehehe.…
hmm.. tp klo ditanya apakah diriku udah bayar sesuai aturan agama? Diriku tak tau tia. Dasarnya yg mana dirikupun tak tau tia, diriku cuman ikut2an aja… lum lagi klo tia bertanya padaku gimana tingkat keikhlasanku, setengah ikhlas hehehe.….hmm, oke deh, diriku bukan pmbayar zakat yg baik. Bolehlah kita bilang pondasi ke-4 ku hilang….musnah.
~ masi santai, ga da yg bisa lepasin handphoneku
Pondasi yg ke-3 Puasa. Hehehe.. diriku ngaku emang masi bolong2.. Diriku juga sangsi apakah puasaku selalu diterima karena perilaku-ku masi lum puasa seperti puasanya perutku. Gatel klo ga ngomongin orang hehehe.., ngomongin orang bikin pahala puasa ga diterima juga tia.. Iya deh tia, kita lupakan pondasiku yg ke-3. Hilang musnah jg.
~ mulai goyah pegangaku tia, diriku mulai takut akan adanya goyangan dan godaan dari luar. Klo ditawari suap menyuap kecil2an, pasti tak dpt kutahan. 2 juta mngkin, cukup buat menggeser jari telunjukku ke kertas warna merah itu. Belum lagi klo ada Miyabi.. ah, ngimpi..
Okeh, kita pass aja pondasi ke-3. Lanjut tia,
Pondasi yang ke-2 sembayang. Ah tia, diriku kan jadi malu.. Okeh diriku aku’in, memang diriku selalu sholat subuh kesiangan. Ah diriku masi lumayan tia. masi bnyak yang sholatna bolong-bolong. Ngeles aja ya… hehehe
Sebetulna, ga cuma asal ngelakuin tia, byak tata cara yg belum diriku paham. Dah gitu, diriku juga masi sering mengulur waktuna klo bersebrangan dengan acara di tivi yg aku suka. Hehehe.. Musnahlah deh…
~ Ouw tia, peganganku tinggal si jempol. Huff… sangat rapuh buat terjatuh. Kena angin aja bisa remuk handphoneku. Klo ada topi miring plus kratindeng yang menyenggol atopun kupu-kupu malam yang hinggap di tanganku, pasti handphoneku jatuh berserakan. Hii… serem juga.
Agamaku cuman diriku pegang dengan shahadat doank tia.

Oh tia, diriku masi rapuh berbuat dosa. Tak kupegang handphoneku erat2.

Ketika dirimu cerita ada org yg mcopet dompet’mu (yang tampak seperti pengikut agamaku) itu, Kita tanyakan saja apakah diriny mpunyai pondasi sampai apa? Dipikir2, apakah syahadatnya dah benar tak ya? Apa dah di ucapkan n dipraktekkan dgn benar? Apakah tau arti dan maksudnya. Apakah masi ingat tujunanny bershahadat. Dasar, dirinya lum memegang handphone.. masi menyentuh saja… Pasti handphonenya udah jatuh remuk, pecah belah.tergoda dompet, uang, ato apapun itu, hilang musnah.

Tia….
Diriku cuma bisa mndoakan semoga dompetmu bisa kembali, mngkin kita intropeksi juga, biar laen kali tidak dicopet lagi..
Segini dulu ya tia…
Sampai ketemu lagi, suatu hari nanti…

Bowo

Cerpen by Laksa – 104812

    • lusi apriani
    • July 27th, 2010

    sepenggal puisi dari Tia…. ( Atau saat ini tia sedang tertidur bersama kupu-kupu )…

    sajak tumpah ruah di bola matamu,
    senyumanmu gerimis, tawamu gerimis,….
    beserta lima jari dalam bongkahan prinsifmu
    ah…agama itu adalah hatimu…
    bagaimana dia bicara, sampailah pada ucapanmu……..

    kelimanya adalah nyawa, maka hidupkah hidup….

    ingat bowo, ingat….
    garansi Allah itu dunia akhirat…………..

    • anonym
    • July 28th, 2010

    Wew, runtut benar pemikirannya. Kelihatan juga penulis sedang merangkum pengalaman-pengalaman barunya. Pemikiran tentang ke’lokal’an seseorang sangat rumit. Apalagi manusia makhluk yang dinamis sehingga tidak selamanya manusia seperti apa yang kita ‘stempel’kan pada awalnya. Dan terkadang sangat menyakitkan, apalagi jika kita sendiri belum mampu melihat diri sendiri. Karena jika demikian, bukan tidak mungkin apa yang penulis terima dari teman-temannya adalah reaksi dari jati diri penulis sendiri.
    Hal yang penting, penulis juga perlu memahami tentang kebenaran. Apa itu kebenaran dan kapan kebenaran harus ditegakkan atau cukup diresapi dalam hati. Kenapa cukup diresapi, karena mungkin penulis dapat melihat banyaknya hal buruk yang akan muncul tidak sebanding dengan kebaikan yang diperoleh.
    Beberapa orang terlihat sulit menutupi aib orang lain. Namun jika berpikir, “sesungguhnya aku takut jika Allah membuka semua aibku di akhirat nanti”, mungkin mereka akan mudah untuk menutup aib orang lain.
    Belajar itu suatu aktivitas yang kontinu, maka hendaknya selalu dilandasi niat yang baik dan perkataan yang baik. Emosi manusia tidak stabil dan menjadi tantangan untuk ditaklukkan memang terkadang memberikan efek spontanitas yang tidak baik. Sedangkan akal yang menghasilkan artikel –misalnya Bowo– sudah barang tentu bukan spontanitas tapi pemikiran yang panjang, sehingga patutnya enak dicerna semua orang.
    Selamat berkarya.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: