Terlambat

Hampir semua orang pernah berjanji, mengadakan janji, minta perjanjian atau bahkan menagih janji…

Jika anda ada suatu perjanjian,- entah untuk keperluan apa, bertemu di suatu tempat atau mengadakan suatu acara, dan laen sebagainya, anda lebih memilih untuk datang tepat waktu, datang terlebih dahulu, atau bahkan datang terlambat dengan harapan orang yang di ajak janji lebih dulu menepati janjinya ??

Kalo anda datang tepat waktu orang akan menghargai anda, jika datang terlebih dahulu orang akan lebih menghargai anda mungkin saja,

Tp bila anda datang terlambat orang akan kurang respect trhdp anda, karena dia telah menunggu anda sampai anda datang tentunya, atau bahkan anda datang ketika injury time alias mepet-mepet waktu perjanjian udah mau habis? bagaimana orang akan menilai anda jika seperti itu? sebel- udah pasti!, bisa jadi dia akan marah pada saat itu juga, dan yang lebih parahnya – terkadang kita ga sadar, orang tersebut tidak mau mengadakan perjanjian lagi trhdp anda, bahkan perkataan anda tidak akan dipercaya oleh orang tersebut…

Dalam sehari, bagi yang muslim, mempunyai janji 5 kali terhadap sang khaliq, Alloh Azza wa jalla…

Isya, Subuh, Dhuhur, Ashar dan Maghrib adalah waktu-waktu dimana kita punya janji thdp Alloh setelah lisan kita berucap, berikrar: Asyhadualla illaha illallah, wa asyhadu anna muhammada rasullallah…Tiada Tuhan yg berhak di sembah selain Alloh, Muhammad utusan Alloh…

Bagaimana bila anda di panggil oleh temen? menoleh sajakah? Its OK.. Bagaimana bila yg memanggil kita atasan tempat kita kerja? menoleh saja mungkin tidak akan cukup? akan dinilai kurang sopan..mungkin kita akan berjalan untuk mendekatinya…untuk menghargai seorang atasan kita…

Janji2 kita sudah ada waktunya masing2…bahkan Allah Sang Maha Pemurah, selalu, selalu dan selalu mengingatkan kita, memanggil kita melalui Muadzin atas ijin Allah SWT..

Allaahu Akbar, Allaaaahu Akbar…Allah maha besar, Allah maha besar

Pada saat kita mendengar panggilan tersebut, sebagai Muslim ( yakin neh kita sebagai Muslim ?? ^^), apa yang patutnya kita perbuat ? Menoleh sajakah? atau kita mendengar tetapi tidak bersergera untuk menghampirinya? bahkan menunggu dengan santainya sampai injury time dari janji tersebut? atau langsung menghampirinya? atau bahkan kita ga peduli seolah-olah tidak ada yang memanggil kita?

Bukankah kita yang merasa punya janji thd Allah, harus berusaha untuk menepati janji janji tersebut tepat waktu, bahkan kalo perlu, tanpa di panggil oleh para mu’adzin, kita sudah menghampiri, datang dan melaksanakan janji tersebut…? Subhanallah, mudah2an kita termasuk orang-orang yang melaksanakan janji tersebut, amin ya Rabb..

Fabiayyi’alairobbikuma tukadziban ?? Nikmat Tuhan mu yg manakah yang akan kau dustakan? ….

Berapa kali kita sudah mengecewakan Allah ? dari akhil baligh, mungkin sudah ribuan kali kita membuat kecewa Dzat Maha Suci yang sudah memberikan kita nikmat yg tak terhitung…
Ampunkan kami ya Rabb…yg telah lalai terhadap Mu…

Tapi…Allah tetap menyayangi kita, tetap memberikan kita nikmat2 tersebut..

Mumpung belum terlambat, mari kita berusaha untuk tidak mengecawakan Dzat Maha Agung yang telah menciptakan kita, memberi kita nikmat yang luar biasa…berusaha, berusaha dan berusaha untuk memenuhi panggilan NYA tepat waktu di tempat yg telah di tentukan oleh Nya yaitu Masjid (bagi laki-laki, red)

(Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat buat penulis, khususnya, dan saudaraku seiman umumnya
Amin ya Rabbal’alamin…)

Renungkanlah……………………

Rifqi Hanif – 104682

Note :

Diantara yang menunjukkan wajibnya shalat berjama’ah adalah tidak adanya rukhshah (keringanan) bagi orang2 dengan kekurangan (seperti riwayat2 ttg Abdullah bin Umi Maktum dibawah ini). Maka bagaimana dengan orang-orang yang tidak kekurangan seperti kita?

1. Buta matanya dan tidak adanya penuntunnya

Ada seorang buta datang menemui Rasulullah seraya berkata:

“Wahai Rasulullah, sungguh aku tidak memiliki penuntun yang bisa menuntunku ke masjid”. Orang itu meminta keringanan kepada Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam. Maka Rasulullah pun mengizinkannya. Namun kemudian ketika orang itu berpaling, Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam memanggilnya seraya berkata: “Apakah engkau mendengar panggilan untuk shalat?” Dia menjawab: “Ya”. Maka beliau Shalallahu’alaihi wa Sallam bersabda: “Kalau begitu penuhilah!”
(HR. Shahih Muslim dalam kitabul Masaajid).

2. Jauh rumahnya

Dalam riwayat lain,
“Wahai Rasulullah, aku adalah orang yang buta dan jauh rumahnya. Sedangkan aku memiliki penuntun yang tidak selalu bersamaku. Apakah aku shalat di rumahku? Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam bertanya:”Apakah engkau mendengar adzan?” Ia menjawab: “Ya”. Maka beliau Shalallahu’alaihi wa Sallam bersabda: “Kalau begitu aku tidak mendapatkan rukhshah untukmu”.
(HR. Abu Dawud dalam Kitabus Shalah, bab at-Tasydid fii tarki ash-shalah, no. 548)

3. Diantara rumahnya dengan masjid melewati kebun-kebun kurma dan semak belukar.

Dalam riwayat lain bahkan disebutkan
“Wahai Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam, antara rumahku dengan masjid banyak pohon kurma dan semak belukar. Dan tidak ada orang yang dapat menuntunku. Apakah boleh bagiku untuk shalat di rumahku?” Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam bertanya: “Apakah engkau mendengar iqamah?” Ia menjawab: “Ya”. Maka Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam bersabda: “Kalau begitu datangilah panggilan tersebut!”
(HR. Ahmad)

4. Masih banyaknya binatang buas dan berbisa di sekitar kota Madinah

Dalam hadits lain dikatakan:
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya di kota Madinah ini masih banyak binatang-binatang buas dan binatang yang berbahaya. Maka Nabi Shalallahu’alaihi wa Sallam bertanya: “Apakah engkau mendengar hayya ‘ala shalah, hayya ‘alal falah? Kalau ya, maka segeralah engkau penuhi panggilan itu!”

(HR. Abu Dawud bab Tasydid fi Tarqil Jama’ah, no. 548; Hakim dalam Mustadrak kitab Ash-Shalah, dishahihkan oleh Dzahabi).

Ibnu Khuzaimah menyebutkan hadits ini dalam kitab shahihnya dengan judul “Bab perintah bagi orang yang buta untuk menghadiri shalat jama’ah walaupun ia khawatir terhadap binatang-binatang berbisa/buas jika menghadiri jama’ah”.(Shahih Ibnu Khuzaimah, kitab al-Imamah fi shalah 2/367).

5. Dalam keadaan tua dan sudah renta

Ibnu Umi Maktum datang -ia adalah seorang buta yang turun tentangnya ayat ‘Abasa wa tawalla an ja’ahul a’ma-, ia adalah seorang dari Quraisy datang kepada Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, ayah dan ibuku sebagai jaminan untukmu. Sungguh aku –sebagaimana yang engkau lihat—adalah orang yang telah tua umurnya, rapuh tulangku (renta), hilang pandanganku (buta), dan aku memiliki penuntun yang tidak cocok denganku, apakah engkau memiliki rukhsah untukku agar aku shalat di rumah?”

Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam bertanya: “Apakah engkau mendengar suara muadzin di rumah yang kamu tinggal di dalamnya?” Ia menjawab: “Ya”. Maka nabi pun bersabda: “Aku tidak memiliki keringanan untukmu. Sungguh kalau orang yang tidak hadir shalat jama’ah ke masjid itu mengetahui apa pahalanya orang yang berjalan menuju shalat jama’ah, niscaya ia akan mendatanginya walaupun merangkak dengan kedua tangan dan kakinya”.

(Dinukil dari At-Targhib wa Tarhib oleh Al Hafidh Al Mundziri. Dihasankan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani dalam Shahih Targhib wa Tarhib, 1/247)

Sumber :
http://www.ahlussunnah-jakarta.com/buletin_detil.php?id=16
Diringkas dari kitab Ahammiyyatus Shalatul Jama’ah, karya Dr. Fadl Ilahi hal.42-51 dan
Dikutip dari Buletin Al Manhaj, Edisi 94/Th. III, 02 Safar 1427 H/03 Maret 2006 M)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: